MENURUT SAYA “AKK-BB” TIDAK MENDUKUNG KEBEBASAN BERAGAMA

BISMILLAH

Semenjak hampir di setiap rumah di Indonesia terhubung dengan jaringan televisi, semakin cepatlah informasi masuk ke tiap kediaman masyarakat. Maka sekilas saja suatu berita akan sampai dengan begitu cepatnya. Bahkan terkadang kita lupa kecepatan suatu informasi tidak selalu seiring dengan keakuratan informasi tersebut. Akan tetapi dampaknya luar biasa, khususnya terhadap pemikiran dan kemudian aksi yang dilakukan konsumen informasi tersebut, minimal berupa komentar.

Tulisan ini dibuat tidak serta-merta setelah adanya insiden Monas 1 Juni 2008 lalu. Penulis perlu waktu untuk mengumpulkan data dan informasi seputar permasalahan tersebut. Kemudian ditulislah artikel ini pada tanggal 5 Juni 2008.

Insiden bentrokan yang terjadi antara FPI dan sebuah ormas yang disebut Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKK-BB), hingga tulisan ini dibuat masih menjadi berita yang diperbincangkan di media-media informasi di Indonesia. Dan inilah yang berhasil penulis olah dari data dan informasi yang ada.

Pertama,

Dalam rangka memperingati hari kelahiran Pancasila, AKK-BB nekat menggelar aksi di Monas meskipun sudah diperingatkan oleh pihak yang berwenang. Bahkan aksi AKK-BB tidak disertai surat ijin dari kepolisian. Terlepas dari masalah administrasi aksi, AKK-BB sengaja ingin menggunakan moment peringatan hari lahir Pancasila untuk menyiarkan idenya untuk memberikan kebebasan kepada siapapun untuk beragama dan berkeyakinan. Ide ini termasuk upaya dalam mendukung aliran Ahmadiyah yang jelas-jelas sudah dihukumi sesat dan menyesatkan oleh MUI, dan selama ini selalu diupayakan oleh ormas-ormas Islam khususnya FPI untuk dibubarkan. Dari sini terlihat satu ”pancingan” yang tidak prosedural dan tidak pada tempatnya telah dilakukan oleh AKK-BB.

 

Kedua,

Akhir-akhir ini sering dipublikasikan ormas-ormas Islam gencar menuntut pembubaran Aliran Ahmadiyah, meskipun sebenarnya sudah lama upaya ini dilakukan. FPI termasuk salah satu ormas yang secara tegas menolak ahmadiyah. Hal ini dikarenakan Aliran Ahmadiyah mengatasnamakan ajaran mereka sebagai ajaran Islam, sedangkan pada ajaran Islam sendiri ajaran Ahmadiyah itu tidak sah. 1400 tahun agama Islam dalam ajarannya secara tegas meytakan nabi Muhammad adalah nabi terakhir, tidak ada nabi setelahnya. Kitab Suci yang diwahyukan Alloh dan berlaku hingga akhir jaman adalah Al Qur’an saja. Ahmadiyah mengakui bahwa ada nabi setelah Muhammad yaitu Mirza Ghulam Ahmad dengan kitab yang diwahyukan adalah Tadzkirah. Terlepas dari pembahasan kesesatan ahmadiyah ini, pada intinya FPI bersama ormas Islam lainnya yang memahami bahwa penisbatan Ahmadiyah kepada Islam adalah kesesatan yang dapat menyesatkan umat Islam itu sendiri dan juga merupakan kejahatan penghinaan terhadap ajaran nabi Muhammad bahkan penghinaan terhadap Nabi Muhammad, maka FPI selalu mengambil tindakan terhadap upaya-upaya semacam itu, karena memang diajarkan bahwa ketika Islam dilecehkan, dan ketika Nabi Muhammad dihina, maka wajib untuk dihentikan penghinaan itu. Termasuk disini ketika seseorang atau kelompok mendukung kemunkaran maka ia adalah bagian dari kemunkaran itu. Demikianlah yang dipahami, dan merupakan amalan beragama.

Ketiga,

Terlihat dari video bahwa sebagian masa beratribut FPI mengejar memukuli aktivis AKK-BB. Dari korban yang diwawancarai ada kaum wanita, mungkin saya lebih setuju menyebut Aktivis wanita. Sejenak mari melihat di Al Qur’an surah Al Lahab, kita akan temukan bahwa istri Abu Lahab-pun ikut dilaknat meskipun ia wanita, ia dilaknat bukan karena ia wanita, bukan karena ia istri Abu Lahab, tetapi karena permusuhannya terhadap Islam dan Nabi Muhammad. Kemudian beberapa hari yang lalu terjadi dialog antara jama’ah masjid ardhussalam dengan seorang perwakilan dari MUI, dijelaskan oleh beliau dengan membawa beberapa buku tulisan aktivis Islam Liberal, bahwa para penulis yang notabene berpaham liberal itu termasuk dalam aktivis AKK-BB dan juga organisasi –organisasi dengan nama-nama lainnya yang memang sedang aktif menyuarakan paham islam liberal. Dan diantaranya ada kativis-aktivis perempuannya, secara tidak sadar sebetulnya disini terjadi inkonsekuensi aktivis perempuan pada khususnya, ketika suatu waktu ia menyuarakan persamaan gender, tetepi di wkatu tertentu ingin ekslusivisme gender juga untuk perempuan. Bukan berarti penulis membenarkan kekerasan terhadap perempuan, tatapi hanya mengulas ketidak-konsekuenan yang terjadi. Penyebab terjadinya pembubaran paksa aksi AKK-BB ini sudah jelas dari point ke-dua di atas, ditambah satu faktor yaitu terlihat dari video pula yang diserahkan FPI kepada Kepolisian bahwa ada ada satu orang yang disinyalir anggota AKK-BB membawa senjata api.

Kesimpulan,

Dari ketiga uraian di atas, dikaitkan dengan judul artikel ini simpulnya adalah ketidak-konsekuenan antara misi dan sikap AKK-BB. AKK-BB hendak menyebarkan ide kebebasan beragama, tetapi memusuhi FPI tindakkannya adalah untuk membela ajaran agamanya. Terlepas dari arif/tidaknya tindakan FPI, tetapi dari sini seharusnya kalau memang menghendaki kebebasan beragama harus bisa menerima sikap FPI :) maksud saya, menerima sikap tegas penganut Islam yang menolak ajaran Ahmadiyah atau aliran lainnya terkecuali Ahmadiyah atau aliran lainnya tidak mengatas-namakan Islam, bukan justeru membela aliran aliran keagamaan yang mengganggu ajaran agama tertentu yang sudah ada sebelumnya. Jadi justeru seharusnya AKK-BB sesuai dengan nama organisasinya bisa juga sepihak dengan FPI (tentu saja jika mau berpikir lebih jauh tentang makna kosakata Kebebasan Beragama). Saran saya AKK-BB ganti nama yang kesannya lebih rasional.

 

Alhamdulillah.

No Comments Yet

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.